Welcome My Blog

Coach RR

Menghapus Luka di Balik Kata: Menolak Normalisasi Bullying dalam Lorong-Lorong Sekolah

Pagi yang cerah di bawah naungan langit Muaro Sentajo, Senin, 2 November 2026, merangkul barisan rapi para siswa-siswi SMAN 1 Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

Di tengah khidmatnya pelataran lapangan upacara, sebuah pesan penting dan mendalam bergema, menyentuh relung kesadaran tentang moralitas yang mulai bergeser di era modern ini.


Melalui amanah pembina upacara yang disampaikan oleh Nuraziza Saida, S.Pd (Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Sentajo Raya), alarm pengingat ditabuh dengan tegas:
Jangan menormalisasi bullying dengan gaya bercanda.

Bullying: Ketika Agresi Berkedok Lelucon
Bullying atau perundungan bukanlah sekadar selingan usil antarteman. Secara psikologis dan sosial, ia adalah bentuk perilaku agresif yang dilakukan secara terus-menerus dengan tujuan meremehkan, merendahkan, dan mencoreng harga diri orang lain.


Namun, yang lebih mengkhawatirkan hari ini adalah fenomena normalisasi. Di lingkungan sekolah, anak-anak kerap saling mengejek dengan menyebut nama orang tua sebuah tindakan yang dianggap sepele, dilabeli sekadar "candaan", atau "salam akrab".

Tanpa disadari, luka batin telah ditanam secara perlahan, sementara pelakunya merasa benar dan aman di balik tawa renyah yang semu.

Sekolah, yang seharusnya menjadi tempat paling suci untuk saling support (mendukung), berbagi ilmu, dan memotivasi, justru perlahan terkikis oleh racun perundungan harian yang dianggap lumrah.


Pandangan Islam: Larangan Menghina dan Merendahkan
Islam sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin sangat menjaga kemuliaan dan kehormatan setiap manusia. Al-Qur'an dengan tegas melarang perbuatan saling mencela, mengejek, atau memanggil dengan sebutan yang buruk, karena boleh jadi, yang diejek jauh lebih mulia di sisi Allah SWT.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)...”

Ayat ini menjadi pengingat mutlak bahwa merendahkan orang lain dengan dalih apa pun, termasuk candaan merupakan kezaliman.

Lebih lanjut, Rasulullah SAW juga menegaskan dalam sebuah hadis riwayat Muslim mengenai esensi seorang Muslim sejati:

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lainnya, ia tidak boleh menzaliminya, tidak boleh merendahkannya, dan tidak boleh menghinakannya...” (HR. Muslim).

Hadis ini menutup celah bagi siapa pun yang menjadikan kehormatan sesama manusia sebagai bahan tertawaan. Lidah yang ringan melontarkan ejekan kepada orang tua atau fisik teman hari ini, adalah bara api yang kelak membakar persaudaraan.



Mari Berubah: Merawat Sekolah Menjadi Taman Kasih Sayang
Pagi di SMAN 1 Sentajo Raya hari ini mengingatkan kita semua baik guru, orang tua, maupun para siswa bahwa perubahan besar bermula dari keberanian untuk menghentikan kebiasaan kecil yang salah.

Sudah saatnya kita membersihkan ruang-ruang kelas dan halaman sekolah dari racun perundungan.

Jadikan setiap lisan penyejuk hati, setiap tegur sapa sebagai bentuk motivasi, dan setiap sudut sekolah sebagai tempat yang aman untuk merajut mimpi bersama. (Coach RR)

“Mari berubah. Semoga dapat dipahami dan dimengerti.”

0 Responses

Posting Komentar

Komentar ya

My Facebook

Best Friend

Bisnis Online Succes (BOS)

Blog Profesional

BP Grup

BP Grup
British Propolis

Kontak Whats Up (WA)

Kontak Whats Up (WA)
085363554777