Welcome My Blog

Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan
Coach RR

Seni Menjaga Lisan: Menyelami 7 Adab Berbicara ala Warren Buffett dalam Timbangan Cahaya Al-Qur'an dan Hadis

Bismillah. Lisan adalah setitik organ kecil di dalam rongga mulut, namun ia memiliki daya ledak yang mampu meruntuhkan istana persahabatan atau merajut kembali hati yang terluka.

Seringkali, tanpa kita sadari, orang-orang di sekitar kita mulai menjaga jarak bukan karena benci pada raga kita, melainkan karena duri-duri tajam yang tak sengaja tercabut dari ucapan kita.

Warren Buffett, seorang legenda investasi dunia, pernah mengingatkan bahwa kemampuan berkomunikasi adalah salah satu pilar utama yang menentukan kesuksesan dan kualitas hubungan seseorang.

Pandangan ini sejatinya bukanlah hal baru dalam peradaban manusia, sebab jauh sebelum dunia modern mengenal teori komunikasi, Islam telah lebih dulu meletakkan fondasi luhur mengenai adab bertutur kata.

Mari kita selami kembali 7 Adab Berbicara tersebut, dipadukan dengan kebijaksanaan mutlak dari sumber cahaya Al-Qur'an dan Al-Hadis.

1. Jangan Memotong Pembicaraan Orang Lain
“Belajarlah mendengarkan sebelum ingin didengar.”

Ketika seseorang berbicara, ia sedang menumpahkan segenap isi pikirannya. Memotong pembicaraannya di tengah jalan sama dengan menutup pintu penghargaan bagi dirinya.

Dalam Islam, mendengarkan dengan penuh perhatian adalah bentuk adab yang mulia.

Rasulullah SAW senantiasa menjadi pendengar yang paling baik bagi siapa saja yang berbicara kepadanya, hingga lawan bicaranya merasa menjadi orang paling penting di dunia. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh...”
(QS. Luqman: 18)

2. Jangan Merasa Paling Pintar
“Orang yang benar-benar berilmu tidak sibuk merendahkan orang lain.”

Kesombongan intelektual adalah racun yang mematikan karisma seseorang. Orang yang benar-benar berilmu ibarat padi; semakin berisi, semakin ia merunduk.

Allah SWT memperingatkan kita agar tidak merasa suci atau paling tahu atas segala hal:

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)

3. Pilih Kata-Kata yang Baik
“Sekali ucapan keluar, belum tentu bisa ditarik kembali.”

Lisan ibarat anak panah yang lepas dari busurnya; ia tak akan pernah bisa kembali ke tempat semula. Oleh karena itu, setiap kata yang hendak meluncur harus disaring oleh timbangan kebijaksanaan.

Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan berkata baik atau memilih diam:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)

4. Jangan Membicarakan Keburukan Orang Lain
“Orang yang suka menjelekkan orang lain akan sulit dipercaya.”

Ghibah (menggunjing) dan gemar mencari-cari keburukan orang lain adalah perangai yang mengikis kehormatan diri sendiri. Orang yang gemar membuka aib orang lain di hadapan kita, kelak akan membuka aib kita di hadapan orang lain.

Allah SWT membuat perumpamaan yang sangat tegas mengenai buruknya ghibah di dalam Al-Qur'an:

“...Dan janganlah menggungjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya...”
(QS. Al-Hujurat: 12)

5. Berbicaralah Seperlunya
“Tidak semua hal harus dikomentari.”

Kebanyakan celaka manusia berawal dari kegemarannya mengomentari segala sesuatu yang bahkan tidak ada urusannya dengan dirinya. Ketenangan jiwa seringkali ditemukan pada mereka yang bijak membatasi kata.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadis:

“Di antara kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi)

6. Hargai Pendapat yang Berbeda
“Tidak harus selalu menang dalam perdebatan untuk menjadi orang yang dihormati.”

Kebenaran bukanlah milik mutlak ego kita. Menghargai perbedaan sudut pandang adalah tanda keluasan dada dan kedewasaan berpikir. Perdebatan yang kusut hanya akan melahirkan permusuhan, bukan solusi.

Rasulullah SAW bahkan menjanjikan sebuah kediaman di surga bagi mereka yang meninggalkan perdebatan meski ia berada di pihak yang benar:

“Aku menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan walaupun ia benar...”
(HR. Abu Dawud)

7. Berani Mengakui Kesalahan
“Meminta maaf tidak membuatmu rendah, justru menunjukkan kedewasaan.”

Rasa gengsi untuk mengakui kekeliruan adalah belenggu yang mengerdilkan jiwa. Padahal, seorang mukmin sejati bukanlah yang tidak pernah berbuat salah, melainkan mereka yang segera kembali kepada kebenaran ketika menyadari kesalahannya.

Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat (memperbaiki diri).” (HR. Tirmidzi)

Ingatlah selalu sebuah pesan agung:
Orang mungkin lupa apa yang pernah kamu katakan, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana perasaan mereka setelah berbicara denganmu.

Jangan hanya berusaha menjadi sosok yang pintar secara akal, tetapi jadilah pribadi yang menghangatkan hati setiap jiwa di sekitarmu.

Karena lisankulah pintu gerbang yang dapat membuka luasnya persahabatan, atau justru menghancurkan kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun lamanya.

“Terkadang, orang yang paling dihargai bukanlah mereka yang paling fasih berorasi, melainkan mereka yang tahu persis kapan harus berbicara dan kapan harus mengunci sunyi dengan bijaksana.”

Ronaldo Rozalino - Coach RR

READ MORE - Seni Menjaga Lisan: Menyelami 7 Adab Berbicara ala Warren Buffett dalam Timbangan Cahaya Al-Qur'an dan Hadis

My Facebook

Best Friend

Bisnis Online Succes (BOS)

Blog Profesional

BP Grup

BP Grup
British Propolis

Kontak Whats Up (WA)

Kontak Whats Up (WA)
085363554777