Welcome My Blog

Coach RR

Seni Menjaga Lisan: Menyelami 7 Adab Berbicara ala Warren Buffett dalam Timbangan Cahaya Al-Qur'an dan Hadis

Bismillah. Lisan adalah setitik organ kecil di dalam rongga mulut, namun ia memiliki daya ledak yang mampu meruntuhkan istana persahabatan atau merajut kembali hati yang terluka.

Seringkali, tanpa kita sadari, orang-orang di sekitar kita mulai menjaga jarak bukan karena benci pada raga kita, melainkan karena duri-duri tajam yang tak sengaja tercabut dari ucapan kita.

Warren Buffett, seorang legenda investasi dunia, pernah mengingatkan bahwa kemampuan berkomunikasi adalah salah satu pilar utama yang menentukan kesuksesan dan kualitas hubungan seseorang.

Pandangan ini sejatinya bukanlah hal baru dalam peradaban manusia, sebab jauh sebelum dunia modern mengenal teori komunikasi, Islam telah lebih dulu meletakkan fondasi luhur mengenai adab bertutur kata.

Mari kita selami kembali 7 Adab Berbicara tersebut, dipadukan dengan kebijaksanaan mutlak dari sumber cahaya Al-Qur'an dan Al-Hadis.

1. Jangan Memotong Pembicaraan Orang Lain
“Belajarlah mendengarkan sebelum ingin didengar.”

Ketika seseorang berbicara, ia sedang menumpahkan segenap isi pikirannya. Memotong pembicaraannya di tengah jalan sama dengan menutup pintu penghargaan bagi dirinya.

Dalam Islam, mendengarkan dengan penuh perhatian adalah bentuk adab yang mulia.

Rasulullah SAW senantiasa menjadi pendengar yang paling baik bagi siapa saja yang berbicara kepadanya, hingga lawan bicaranya merasa menjadi orang paling penting di dunia. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh...”
(QS. Luqman: 18)

2. Jangan Merasa Paling Pintar
“Orang yang benar-benar berilmu tidak sibuk merendahkan orang lain.”

Kesombongan intelektual adalah racun yang mematikan karisma seseorang. Orang yang benar-benar berilmu ibarat padi; semakin berisi, semakin ia merunduk.

Allah SWT memperingatkan kita agar tidak merasa suci atau paling tahu atas segala hal:

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)

3. Pilih Kata-Kata yang Baik
“Sekali ucapan keluar, belum tentu bisa ditarik kembali.”

Lisan ibarat anak panah yang lepas dari busurnya; ia tak akan pernah bisa kembali ke tempat semula. Oleh karena itu, setiap kata yang hendak meluncur harus disaring oleh timbangan kebijaksanaan.

Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan berkata baik atau memilih diam:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)

4. Jangan Membicarakan Keburukan Orang Lain
“Orang yang suka menjelekkan orang lain akan sulit dipercaya.”

Ghibah (menggunjing) dan gemar mencari-cari keburukan orang lain adalah perangai yang mengikis kehormatan diri sendiri. Orang yang gemar membuka aib orang lain di hadapan kita, kelak akan membuka aib kita di hadapan orang lain.

Allah SWT membuat perumpamaan yang sangat tegas mengenai buruknya ghibah di dalam Al-Qur'an:

“...Dan janganlah menggungjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya...”
(QS. Al-Hujurat: 12)

5. Berbicaralah Seperlunya
“Tidak semua hal harus dikomentari.”

Kebanyakan celaka manusia berawal dari kegemarannya mengomentari segala sesuatu yang bahkan tidak ada urusannya dengan dirinya. Ketenangan jiwa seringkali ditemukan pada mereka yang bijak membatasi kata.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadis:

“Di antara kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi)

6. Hargai Pendapat yang Berbeda
“Tidak harus selalu menang dalam perdebatan untuk menjadi orang yang dihormati.”

Kebenaran bukanlah milik mutlak ego kita. Menghargai perbedaan sudut pandang adalah tanda keluasan dada dan kedewasaan berpikir. Perdebatan yang kusut hanya akan melahirkan permusuhan, bukan solusi.

Rasulullah SAW bahkan menjanjikan sebuah kediaman di surga bagi mereka yang meninggalkan perdebatan meski ia berada di pihak yang benar:

“Aku menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan walaupun ia benar...”
(HR. Abu Dawud)

7. Berani Mengakui Kesalahan
“Meminta maaf tidak membuatmu rendah, justru menunjukkan kedewasaan.”

Rasa gengsi untuk mengakui kekeliruan adalah belenggu yang mengerdilkan jiwa. Padahal, seorang mukmin sejati bukanlah yang tidak pernah berbuat salah, melainkan mereka yang segera kembali kepada kebenaran ketika menyadari kesalahannya.

Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat (memperbaiki diri).” (HR. Tirmidzi)

Ingatlah selalu sebuah pesan agung:
Orang mungkin lupa apa yang pernah kamu katakan, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana perasaan mereka setelah berbicara denganmu.

Jangan hanya berusaha menjadi sosok yang pintar secara akal, tetapi jadilah pribadi yang menghangatkan hati setiap jiwa di sekitarmu.

Karena lisankulah pintu gerbang yang dapat membuka luasnya persahabatan, atau justru menghancurkan kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun lamanya.

“Terkadang, orang yang paling dihargai bukanlah mereka yang paling fasih berorasi, melainkan mereka yang tahu persis kapan harus berbicara dan kapan harus mengunci sunyi dengan bijaksana.”

Ronaldo Rozalino - Coach RR

READ MORE - Seni Menjaga Lisan: Menyelami 7 Adab Berbicara ala Warren Buffett dalam Timbangan Cahaya Al-Qur'an dan Hadis
Coach RR
Membangun Generasi Unggul Melalui Pembiasaan Disiplin dan Spiritual di SMA Taruna Muhammadiyah Riau


Teluk Kuantan — Pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan di dalam kelas melalui teori semata. Ia memerlukan proses pembiasaan yang konsisten, terstruktur, dan berkesinambungan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal inilah yang diterapkan secara nyata di SMA Taruna Muhammadiyah Riau melalui berbagai kegiatan harian yang disiplin dan religius kata Dr. H. Ahdanan Shaleh, S.Ag., M.Pd Kepala SMA Taruna Muhammadiyah Riau.

Ahdanan Shaleh mengatakan dengan mengusung semangat School of Discipline, Leadership and Excellence, sekolah ini berkomitmen melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kekuatan spiritual, akhlak mulia, serta karakter yang tangguh.


1. Apel Pagi dan Sore: Fondasi Kedisiplinan dan Jiwa Kepemimpinan
Apel pagi dan sore merupakan rutinitas penting yang menjadi bagian dari pembinaan ketarunaan di lingkungan SMA Taruna Muhammadiyah Riau.

Apel pagi berfungsi sebagai sarana menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, serta kesiapan mental siswa sebelum memulai aktivitas pembelajaran.

Sementara itu, apel sore menjadi momen evaluasi harian sekaligus penguatan kedisiplinan sebelum siswa mengakhiri aktivitas di sekolah.

Nilai kedisiplinan dan keteraturan ini sejalan dengan ajaran Islam. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk senantiasa teratur, disiplin, dan bersungguh-sungguh dalam setiap urusan:

"Sesungguhnya Allah SWT mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan اِتْقَان (itqan/profesional, tuntas, dan teratur)."
(HR. Baihaqi)

Melalui kegiatan apel yang rutin, para siswa dilatih untuk menghargai waktu, mematuhi aturan, serta menumbuhkan jiwa kepemimpinan yang matang lanjut Ahdanan Shaleh.

2. Sholat Berjamaah: Pilar Pembinaan Spiritual dan Ketakwaan
Pendidikan karakter tidak akan sempurna tanpa landasan spiritual yang kuat. Di SMA Taruna Muhammadiyah Riau, pelaksanaan sholat berjamaah menjadi agenda wajib untuk membangun kesadaran beragama dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Kegiatan ini membiasakan para siswa untuk senantiasa mendirikan ibadah secara tertib, disiplin waktu, serta mempererat rasa persaudaraan (ukhuwah) sesama pelajar. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an mengenai keutamaan dan kedisiplinan dalam mendirikan sholat:

"Maka dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa: 103)

Dengan pembiasaan ini, diharapkan para taruna dan taruni tumbuh menjadi pribadi yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam setiap situasi.


3. Makan Siang Bersama: Menumbuhkan Kebersamaan dan Rasa Syukur
Kegiatan makan siang bersama yang rutin dilaksanakan di sekolah bukan sekadar waktu untuk mengisi energi, melainkan sarana efektif dalam membentuk karakter sosial siswa.

Melalui momen ini, para siswa diajarkan nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur atas nikmat rezeki, kemandirian, kesederhanaan, serta kepedulian antarsesama.

Islam mengajarkan adab dalam makan serta pentingnya kebersamaan dalam menikmati rezeki yang berkah.

Rasulullah SAW bersabda:
"Berkumpullah kalian dalam makanan kalian dan sebutlah nama Allah atasnya, maka kalian akan diberi berkah padanya."
(HR. Abu Dawud)

Suasana kebersamaan di ruang makan ini mempererat keakraban antar-siswa tanpa memandang latar belakang, sehingga tercipta lingkungan sekolah yang harmonis dan kekeluargaan.

Menuju Generasi Berkarakter dan Berwawasan Kebangsaan
Pendidikan di SMA Taruna Muhammadiyah Riau membuktikan bahwa proses belajar adalah ikhtiar menyeluruh untuk membangun kepribadian yang utuh.



Melalui kombinasi antara kedisiplinan apel, kedekatan spiritual melalui sholat berjamaah, serta penguatan sosial lewat makan bersama, sekolah ini terus konsisten mencetak generasi muda yang bertakwa, berakhlak mulia, mandiri, berprestasi, dan berwawasan kebangsaan. (Coach RR) 

READ MORE - Membangun Generasi Unggul Melalui Pembiasaan Disiplin dan Spiritual di SMA Taruna Muhammadiyah Riau
Coach RR

Jangan Sombong! Itu Saja! Allah Maha Penguasa Jagad Raya

Bismillah. Pernahkah kita merenungkan betapa rapuhnya manusia di hadapan Sang Pencipta?

Memiliki jabatan tinggi, harta yang melimpah, atau kekuasaan luas sering kali membuat seseorang terlena.

Padahal, semua titipan tersebut bisa lenyap dalam sekejap mata atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi sikap tawadu (rendah hati) dan melarang keras sifat sombong.

Mari kita telaah bersama melalui cahaya Al-Qur'an dan Al-Hadis agar hati kita senantiasa terjaga dari penyakit ujub dan takabur.

Bahaya Sombong dalam Al-Qur'an dan Hadis
Sifat sombong bukan hanya sekadar tingkah laku yang tidak disukai sesama manusia, tetapi juga merupakan dosa yang sangat dibenci oleh Allah Ta'ala.

Al-Qur'an telah mengabadikan peringatan keras mengenai hal ini:

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."
(QS. Luqman: 18)

Bahkan, Rasulullah SAW memberikan ancaman yang sangat tegas bagi siapa saja yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, sekecil apa pun itu:

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan."
(HR. Muslim)

Pelajaran dari Kisah Firaun, Namrud, dan Qorun
Sejarah umat manusia telah mencatat kehancuran orang-orang terdahulu yang binasa akibat kesombongan mereka sendiri:

Firaun yang mengklaim dirinya sebagai tuhan tertinggi ("An-aamul a'la") akhirnya tenggelam di Laut Merah bersama seluruh bala tentaranya.

Namrud yang sombong menantang Nabi Ibrahim AS dan kekuasaan Allah, akhirnya tewas secara hina hanya melalui perantara seekor nyamuk yang masuk ke dalam kepalanya.

Qorun yang kaya raya bergelimang harta dan mengira kekayaannya adalah hasil kepandaiannya sendiri, ditelan bumi beserta seluruh harta bendanya.

Ketiga kisah ini adalah bukti nyata bahwa ketika Allah berkehendak, harta, tahta, dan kekuatan sehebat apa pun akan runtuh seketika.

Meraih Keberkahan dengan Rendah Hati
Bagi siapa saja yang saat ini sedang diberi amanah berupa jabatan, kekuasaan, atau rezeki berlimpah, kuncinya hanya satu: rendah hati.

Dengan kerendahan hati, Allah akan melimpahkan keberkahan pada setiap urusan kita, dan manusia pun akan menumbuhkan rasa empati serta hormat yang tulus.

Jabatan dan harta yang dinaungi dengan kerendahan hati akan menjadi jembatan menuju amal jariyah, bukan jalan menuju kebinasaan.

Mari kita senantiasa memanjatkan doa agar hati kita dijauhkan dari sifat lupa diri:

"Ya Allah, jangan jadikan diri ini orang yang lupa diri. Sesungguhnya diri ini hamba yang lemah tanpa pertolongan dan kebaikan-Mu."

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah, dan perlindungan untuk kita semua agar selalu berada di jalan yang diridhai-Nya. Aamiin.

Oleh: Ronaldo Rozalino - Coach RR
(Teacherpreneur • Writer • Motivator Literation & Education • Content Creator • Business Owner Leader • Composer & Arranger • Coach)

WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Site: s.id/RonaldoRozalino 

READ MORE - Jangan Sombong! Itu Saja! Allah Maha Penguasa Jagad Raya
Coach RR

Seni Berdamai dengan Kenyataan: Harga Diri Sejati Bukan pada Pengakuan Manusia

Bismillah. Pernahkah Anda merasa cemas, lelah, atau berkecil hati hanya karena merasa diabaikan, jarang dicari, atau tidak disapa oleh orang-orang di sekitar?

Di era digital dan dunia sosial yang serba cepat ini, validasi eksternal sering kali menjadi standar semu yang melelahkan.

Mengingatkan kita iidak semua orang akan mencari kita, menyapa kita, atau menganggap kehadiran kita penting. Dan ketahuilah, itu sama sekali bukan sebuah masalah.

Refleksi sebuah realitas psikologis yang mendalam:
Bila tidak dicari bukan berarti kita tidak penting, bila tidak disapa bukan berarti kita bukan
siapa-siapa.

Mengapa kita harus berhenti merusak hati hanya karena tidak semua orang menyukai kita?

Mari kita bedah perspektif ini melalui sudut pandang Islam yang menyejukkan hati, bersumber dari Al-Qur'an dan Al-Hadits.

1. Standar Kemuliaan di Hadapan Allah, Bukan Makhluk
Manusia memiliki kecenderungan alami untuk mencari pujian, perhatian, dan pengakuan (penerimaan sosial).

Namun, menggantungkan harga diri pada penilaian manusia adalah beban yang terlalu berat untuk dipikul.

Dalam pandangan Islam, kemuliaan seseorang sama sekali tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang mencarinya atau seberapa populer ia di tengah masyarakat.

Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal."
(QS. Al-Hujurat: 43:13)

Ayat ini menegaskan bahwa tolok ukur nilai seseorang di sisi Sang Pencipta adalah ketakwaannya, bukan seberapa ramai orang yang menyapa atau memvalidasi kehadirannya.


2. Mengapa Sibuk Mencari Perhatian Manusia Adalah Kesia-siaan?
Menghabiskan energi untuk mengejar perhatian orang lain hanya akan menguras ketenangan jiwa.

Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk tidak bergantung pada penilaian manusia, melainkan fokus pada rida Allah SWT.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa yang mencari rida Allah meskipun dibenci oleh manusia, maka Allah akan mencukupinya dari beban manusia. Dan barang siapa yang mencari rida manusia meskipun dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia." 

(HR. Tirmidzi)

Hadits ini menjadi pengingat yang kuat bahwa ketenangan hati lahir saat kita melepaskan keharusan untuk membuat semua orang senang kepada kita.

Selalu ada orang yang tidak akan menyukai kita, bahkan kepada para nabi dan rasul pun hal itu terjadi. Lantas, mengapa kita harus membuang energi untuk sesuatu di luar kendali kita?

3. Tetap Menjadi Diri Sendiri dan Jaga Ketenangan Hati
Pesan bijak dari penulis mengajak kita untuk bersikap proporsional dalam berinteraksi sosial:

Hargai mereka yang menghargai kita, dan belajarlah berdamai dengan mereka yang tidak peduli.

Fokus pada yang esensial: Curahkan energi Anda untuk hal-hal positif, pengembangan diri, ibadah, serta orang-orang tulus yang membersamai Anda dalam kebaikan.

Lindungi hati: Jangan biarkan pengabaian orang lain merusak kedamaian batin Anda. Ketenangan jiwa adalah modal utama untuk produktif dan bahagia.

Ingatlah selalu, harga diri Anda tidak ditentukan oleh seberapa ramai ponsel Anda berdering, atau seberapa banyak orang yang mencari dan menyukai Anda.

Jadilah pribadi yang tangguh secara mental, tegar berpijak pada prinsip kebaikan, dan senantiasa menyebarkan energi positif.

Selamat sore, selamat berbahagia, dan mari terus melangkah dengan hati yang merdeka!

Disarikan dari inspirasi:
Ronaldo Rozalino - Coach RR
(Teacherpreneur • Content Creator • Motivator • Writer • Business Owner Leader • Composer & Arranger • Coach)

📱 WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
🌐 Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
📺 YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
🔗 Site: s.id/RonaldoRozalino

READ MORE - Seni Berdamai dengan Kenyataan: Harga Diri Sejati Bukan pada Pengakuan Manusia
Coach RR

Bait-Bait Cinta dalam Naungan Sakinah: Rumah Tempat Aku Selalu Ingin Pulang

Bismillah. Di hamparan bumi yang luas ini, di antara miliaran manusia yang berjalan dan berpapasan, takdir merajut jalinan kisah yang teramat indah.

Pertemuan antara dua jiwa bukanlah kebetulan yang hampa makna, melainkan skenario agung yang telah tertulis di Mahfuzh-Nya.

Sebagaimana pesan penuh ketulusan yang terukir dalam gambar di atas, seorang suami menatap sang istri dengan penuh kelembutan, merenungkan sebuah tanya yang sarat akan perenungan jiwa:

"Sayangku... di antara begitu banyak orang di dunia ini, kenapa justru kamu yang Allah pertemukan dengan aku? Ternyata, karena Allah tahu kamulah yang akan mencintaiku bahkan saat aku sedang di titik terendah."

Makna Pernikahan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah
Pernikahan bukanlah sekadar ikatan sosial, melainkan sebuah ayat-ayat cinta Sang Pencipta.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 21:
“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan sejati dari sebuah pernikahan adalah lahirnya sakinah (ketentraman), mawaddah (cinta kasih), dan rahmah (kelembutan).

Ketika badai kehidupan menghantam, pasangan hidup hadir bukan untuk menambah beban, tetapi menjadi tempat berteduh, tempat di mana lelahnya dunia terbayar oleh ketulusan pelukan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengingatkan kita tentang bagaimana memilih dan memperlakukan pasangan hidup dengan mulia, serta memandang pernikahan sebagai penyempurna separuh agama.

Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita (istri) yang salihah.”
(HR. Muslim)

Istri yang salihah adalah cahaya di tengah gulita, penenang jiwa saat gundah, dan tempat raga melabuhkan segenap asa.

Ketika Titik Terendah Menjadi Ujian Kesetiaan
Hidup tidak selalu berjalan di atas permadani yang lembut. Ada kalanya roda berputar ke bawah, membawa seseorang pada titik terendah dalam hidupnya saat kekuatan melemah, air mata jatuh tanpa henti, dan rasa percaya diri runtuh berkeping-keping.

Di sinilah indahnya ikatan pernikahan yang dijiwai oleh iman. Sosok istri yang tulus tidak akan pergi saat badai menerpa.

Sebagaimana ungkapan hati yang menyentuh jiwa:
"Kamu yang akan memegang tanganku saat aku sudah tidak kuat berdiri sendiri. Kamu yang tetap melihat ada baiknya di diriku, di saat aku sendiri merasa tidak berharga."

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri adalah teladan terbaik dalam memuliakan istri.

Beliau senantiasa menunjukkan kelembutan, dukungan emosional, dan penghargaan yang tinggi kepada para istrinya, terutama Khadijah radhiyallahu 'anha, yang menjadi benteng ketenangan dan pendukung utama di awal-awal berat risalah kenabian.

Rumah Tempat Aku Selalu Ingin Pulang
Rumah sejati bukanlah sekadar bangunan megah beratap beton dan berdinding kokoh.

Rumah adalah tentang seseorangtempat di mana jiwa yang lelah karena penatnya dunia bisa kembali merasa aman, diterima apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.

"Kamu menerima aku apa adanya, dengan segala kurang dan burukku. Kamu tidak pernah pergi saat hidupku sedang terasa berat. Justru di saat itulah aku sadar: kamu bukan sekadar pasangan hidup. Kamu adalah jawaban doa-doa yang dulu aku panjatkan dengan air mata."

Betapa beruntungnya jiwa yang menemukan pasangan hidup yang menjadi syafaat penyejuk hati, yang doanya senantiasa melangit mengiringi setiap langkah suaminya.

Mari jadikan rumah tangga kita sebagai taman surga dunia, tempat saling menguatkan dalam ketaatan, bersabar dalam ujian, dan bersyukur atas setiap nikmat yang Allah curahkan.

Semoga setiap pelukan dan senyuman di dalam rumah tangga bernilai ibadah di sisi-Nya, mengantarkan kita menuju ke abadian surga bersama orang-orang tercinta.

Artikel ini disarikan dan terinspirasi dari refleksi kehidupan bersama:
Coach RR (Ronaldo Rozalino).

Media Sosial Digital:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Site: s.id/RonaldoRozalino

READ MORE - Bait-Bait Cinta dalam Naungan Sakinah: Rumah Tempat Aku Selalu Ingin Pulang
Coach RR

Menyemai Jiwa Pahlawan dalam Harmoni Kolaborasi: Menyongsong P5 di SMAN 1 Sentajo Raya

Samudra Kebersamaan dalam Bingkai Ilahi
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang telah menghamparkan nikmat persatuan dan kecintaan dalam lubuk hati hamba-hamba-Nya.

Di bawah naungan langit Provinsi Riau yang tenang, tepatnya di SMAN 1 Sentajo Raya, denyut nadi pendidikan berpadu dengan semangat kebangsaan yang membara.


Sebuah langkah mulia diayunkan melalui Rapat Persiapan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang diselenggarakan pada Selasa, 3 November 2026.

Pertemuan ini bukan sekadar agenda administratif, melainkan sebuah majelis ikhtiarpertemuan hati dan pikiran untuk merajut cita-cita luhur bangsa.

Dalam pandangan Islam, kolaborasi dan tolong-menolong dalam kebaikan adalah esensi dari ukhuwah.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Ma'idah ayat 2:
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS. Al-Ma'idah: 2)

Ayat suci ini menjadi kompas spiritual bagi seluruh civitas akademika SMAN 1 Sentajo Raya untuk melangkah bersama dalam kesatuan visi.


Sinergi dan Kolaborasi: Kunci Kesuksesan Bersama
Semangat kebersamaan tersebut ditegaskan oleh Drs. Afrizal selaku Penanggung Jawab kegiatan. Dalam arahannya, beliau menyampaikan sebuah pesan mendalam yang menyentuh jiwa:

"Agar semua berkolaborasi untuk mensukseskan kita."

Pesan ini selaras dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersamaan, bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan.

Sabda Rasulullah SAW:
"Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal kasih sayang, belas kasih, dan empati di antara mereka adalah bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasakan tidak bisa tidur dan demam." (HR. Muslim)

Kolaborasi antara jajaran pimpinan sekolah, dewan guru, hingga mahasiswa Program Pengenalan Lapangan (PPL) dari UNIKS (Universitas Islam Kuantan Singingi)
mencerminkan keindahan tubuh yang utuh tersebut.

Susunan kepanitiaan yang solid dirancang untuk memikul amanah mulia ini secara bersama-sama.


Menyemai Kreativitas Berbasis Nilai Pahlawan
Sementara itu, Ketua Panitia, Welmazetri, S.Pd, memaparkan rangkaian mata lomba yang sarat akan makna edukatif dan historis.

Kegiatan P5 kali ini dimeriahkan dengan berbagai ajang kompetisi yang menguji kreativitas sekaligus karakter siswa:

Lomba Cosplay: Ruang ekspresi bagi siswa untuk menghidupkan kembali karakter dan semangat para pejuang bangsa.

Lomba Pidato: Wahana melatih retorika dan ketajaman berpikir, dengan ketentuan kostum yang menyesuaikan tema lomba.

Lomba Fashion Show: Panggung estetika yang memadukan keindahan busana dengan jiwa kepahlawanan.

Beliau juga mengingatkan pentingnya sinergi:
"Kesuksesan ini dengan kolaborasi kita semua. Kegiatan ini banyak manfaatnya yaitu mengenal para pahlawan, tanggung jawab. Guru pembimbing berkoordinasi dengan siswa apa yang harus dipersiapkan."

Mengenal para pahlawan adalah bagian dari menumbuhkan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang pentingnya menghargai setiap kebaikan:

"Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah." (HR. Tirmidzi)

Mengenang jasa para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa raga demi negeri adalah wujud nyata rasa terima kasih kita kepada sesama makhluk yang berjasa besar bagi peradaban bangsa.


Waktu, Tempat, dan Harapan Menuju Ridho Ilahi
Berdasarkan hasil musyawarah mufakat, rangkaian puncak acara penuh makna ini Insya Allah akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal: 5 Oktober 2026
Waktu: Pukul 09.00 WIB hingga selesai
Tempat: Lapangan SMAN 1 Sentajo Raya, Provinsi Riau

Dewan Juri: Kolaborasi harmonis antara dewan guru dan Mahasiswa PPL UNIKS.

Seluruh persiapan dirancang dengan teliti, di mana para guru pembimbing aktif berkoordinasi mendampingi siswa-siswi tercinta agar setiap detail acara dipersiapkan secara matang.

Sebagai penutup rangkaian persiapan yang penuh berkah sama sama berharap :

"Semoga kegiatan berjalan sukses, lancar dalam ridho Allah SWT. Aamiin."

Mari kita sambut perhelatan agung ini dengan gelora semangat juang yang tinggi. (Coach RR)

Selamat Hari Pahlawan Dalam Kreatifitas!

Semoga setiap langkah kita bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

READ MORE - Menyemai Jiwa Pahlawan dalam Harmoni Kolaborasi: Menyongsong P5 di SMAN 1 Sentajo Raya
Coach RR

Menyalakan Lentera Kepahlawanan: Merajut Jiwa Pejuang Lewat Kreasi Generasi Muda di SMAN 1 Sentajo Raya

Warisan Darah dan Doa
Bismillah. Darah para pahlawan yang tumpah di bumi pertiwi bukanlah tetesan yang sia-sia. Ia adalah tinta sejarah yang menuliskan kemerdekaan, sebuah lembaran suci yang kini diwariskan kepada pundak generasi muda.

Di bumi SMAN 1 Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi.
Melalui kegiatan kokurikuler bertajuk "Gebyar Hari Pahlawan" yang diselenggarakan pada Kamis, 5 November 2026, sekolah ini menjelma menjadi rahim peradaban yang melahirkan tunas-tunas bangsa berjiwa ksatria.

Mengusung tema
"Bangkitkan Semangat Kepahlawanan Melalui Kreasi Generasi Muda", acara ini memadukan keindahan seni, ketegasan retorika, dan keluhuran budi pekerti dalam bingkai nilai-nilai Islam.

Semangat Jihad dan Kepahlawanan dalam Pandangan Islam
Dalam Islam, jiwa kepahlawanan sejatinya berakar dari nilai jihad bukan dalam arti sempit pertumpahan darah, melainkan kesungguhan yang luar biasa (mujahadah) untuk menegakkan kebaikan, membela kebenaran, serta membawa kemaslahatan bagi umat manusia dan bangsa.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Hajj ayat 78:

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan suatu kesukaran untukmu dalam agama...”
(QS. Al-Hajj: 78)

Ayat ini menyinari sanubari kita bahwa meneruskan estafet perjuangan para pahlawan bangsa adalah bentuk jihad intelektual dan moral.

Generasi muda SMAN 1 Sentajo Raya, yang berpijak pada motto sekolah "Imtaq, Iptek, Berbudaya Melayu", membuktikan bahwa perjuangan hari ini diwujudkan melalui karya, kreativitas, dan pelestarian identitas budaya yang luhur kata Drs. Afrizal Kepala SMAN 1 Sentajo Raya. 

Rasulullah SAW juga mengingatkan kita tentang pentingnya ketulusan dan kekuatan jiwa dalam berjuang melalui sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah...”
(HR. Muslim)

Kekuatan di era modern bukanlah sekadar kekuatan fisik di medan perang, melainkan kekuatan mental, kecerdasan berpikir, keteguhan moral, serta kreativitas tanpa batas yang bermuara pada kecintaan kepada tanah air (Hubbul wathan minal iman cinta tanah air sebagian dari iman).

Panggung Kreasi: Menghidupkan Kembali Api Perjuangan
Gebyar Hari Pahlawan di SMAN 1 Sentajo Raya dirancang secara apik melalui berbagai tangkai perlombaan kokurikuler yang menantang daya cipta dan keberanian peserta didik:

Lomba Pidato Hari Pahlawan: Menggugah kembali retorika kebangsaan, menyuarakan api semangat Bung Tomo melalui lisan generasi penerus yang bernas dan berapi-api.

Lomba Cosplay Pahlawan: Menghidupkan raga para tokoh sejarah di hadapan mata, mengenang jasa mereka lewat napak tilas visual perjuangan masa lampau.

Lomba Yel-yel Hari Pahlawan: Membakar kekompakan, gelora, dan denyut nadi kebersamaan dalam satu paduan suara yang menghentak semangat juang.

Setiap perlombaan ini bukan sekadar ajang kompetisi mencari
juara, melainkan sebuah prosesi sakral penanaman karakter.

Melalui busana Melayu yang megah, balutan busana pahlawan yang heroik, serta senyum optimisme para guru dan kepala sekolah, SMAN 1 Sentajo Raya menunjukkan bahwa tradisi luhur dan modernitas kreativitas pemuda dapat berjalan seiring sejalan.

Menjaga Warisan, Menyongsong Masa Depan
Kepahlawanan sejati adalah ketika seseorang mampu menaklukkan kebodohan, kemalasan, dan egoisme demi kemaslahatan bersama.

Generasi muda SMAN 1 Sentajo Raya telah mengibarkan panji-panji optimisme, membuktikan bahwa jiwa pahlawan senantiasa hidup di dalam dada setiap insan yang mencintai bangsanya.

Semoga melalui momentum Gebyar Hari Pahlawan ini, lahir generasi Rabbani yang tangguh cerdas akalnya, suci hatinya, kokoh imannya, serta siap mengorbankan tenaga dan pikiran untuk kejayaan agama, nusa, dan bangsa. (Coach RR)

“Wahai generasi muda, jadilah engkau fajar yang menyingsingkan malam kebodohan, dan jadilah pahlawan bagi masa depan peradabanmu.”

READ MORE - Menyalakan Lentera Kepahlawanan: Merajut Jiwa Pejuang Lewat Kreasi Generasi Muda di SMAN 1 Sentajo Raya
Coach RR

Melukis Cinta di Jiwa Anak: Seni Mendidik Tanpa Amarah Menuju Harmoni Keluarga


Bismillah. Anak bukanlah wadah kosong yang hanya bisa diisi dengan instruksi dan tuntutan. Mereka adalah cermin, tempat di mana bayangan kita sebagai orang tua terpantul dengan begitu jujur.

Seringkali kita menuntut buah hati untuk senantiasa santun, patuh, dan berlemah lembut, namun lupa untuk berkaca: bagaimanakah cara kita memperlakukan mereka selama ini?

Sebuah kalimat bijak dalam gambar yang dibagikan mengingatkan kita sebuah kebenaran yang agung:

"Anak belajar menghormati orang tua dari cara orang tua memperlakukannya."

Islam sebagai agama yang sempurna telah meletakkan fondasi kasih sayang yang begitu tinggi dalam membina keluarga.

Hubungan antara orang tua dan anak bukan sekadar relasi kekuasaan antara penguasa dan yang dipimpin, melainkan ikatan suci yang bersemi di atas naungan cinta kasih, kelembutan, dan keteladanan.

Meneladani Kelembutan Ilahi dalam Al-Qur'an dan Al-Hadis
Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa mengajarkan kepada para orang tua agar mendidik dengan penuh kelembutan.

Bahkan, ketika memberikan nasihat terbaik kepada anak-anaknya, teladan para nabi selalu dibalut dengan bahasa yang menyejukkan jiwa, seperti teladan Luqman al-Hakim kepada anaknya yang diabadikan dalam Al-Qur'an:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'”
(QS. Luqman: 13)

Panggilan "Ya bunayya" (wahai anakku tercinta) yang digunakan Luqman adalah bentuk sapaan penuh kelembutan, menunjukkan bahwa nasihat yang paling tajam sekalipun akan menembus relung hati yang paling dalam jika disampaikan dengan kehangatan cinta.

Rasulullah SAW juga merupakan suri teladan utama dalam memuliakan anak-anak. Beliau tidak pernah membentak, apalagi merendahkan mereka.

Sabda Nabi SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim menegaskan pentingnya kasih sayang:

“Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika kasih sayang adalah kunci utama untuk mendapatkan rahmat Allah, maka rumah tangga adalah tempat pertama di mana kunci itu harus diwariskan kepada generasi penerus.

5 Langkah Bijak Mencegah Anak Melawan dengan Pendekatan Hati
Mengacu pada panduan mendidik penuh makna yang tersaji, berikut adalah penjabaran 5 cara agar anak tumbuh menjadi pribadi yang menghormati orang tua tanpa harus melalui bentakan maupun amarah:

1. Jangan Membentak: Tegur Anak dengan Tenang dan Lembut
Suara yang tinggi tidak akan pernah meninggikan wibawa, ia justru meruntuhkan rasa aman di dalam jiwa anak.

Kelembutan adalah perhiasan dalam setiap urusan. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah terletak pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan ia akan memperjeleknya.” (HR. Muslim).

Tegurlah buah hati dengan nada yang menyejukkan, bagaikan embun pagi yang menyapa daun.

2. Bicara Sejajar: Tatap Matanya dan Nasihati dengan Tegas
Komunikasi yang efektif lahir dari kesetaraan jiwa.

Ketika kita berlutut atau merendahkan posisi tubuh agar sejajar dengan pandangan mata anak, kita sedang mengirimkan pesan psikologis bahwa mereka dihargai sebagai manusia yang memiliki perasaan.

Tatapan mata yang penuh cinta disertai ketegasan yang bijak akan menanamkan rasa hormat yang tulus, bukan rasa takut yang semu.

3. Jangan Mempermalukan: Jaga Harga Diri Mereka
Kesalahan anak di masa pertumbuhan adalah proses belajar.

Menegur kesalahan dengan cara mempermalukan mereka di hadapan orang lain atau bahkan di hadapan saudaranya hanya akan menorehkan luka batin dan menumbuhkan benih-benih pemberontakan.

Tutuplah aib kecil mereka dengan kebijaksanaan, sebagaimana Allah senantiasa menutupi aib-aib hamba-hamba-Nya.

4. Berikan Kasih Sayang: Perbanyak Pelukan dan Sentuhan
Sentuhan fisik seperti pelukan hangat, usapan lembut di kepala, dan genggaman tangan adalah bahasa kasih universal yang mencairkan kebekuan emosi.

Rasulullah SAW sendiri sering memperlihatkan kasih sayang fisik kepada anak-anak dan cucu-cucu beliau. Pelukan tulus dari orang tua membuat anak merasa berharga, dicintai, dan diakui eksistensinya di dunia ini.

5. Jaga Ucapan Saat Marah: Ganti Kata Buruk dengan Doa Baik
Lidah manusia terkadang berjalan lebih cepat daripada akal sehat ketika amarah menguasai diri. Namun, seorang pendidik sejati mampu mengendalikan lisannya.

Alih-alih melontarkan sumpah serapah atau doa keburukan bagi anak yang dikhawatirkan bertepatan dengan waktu diijabahnya doa gantilah dengan doa-doa kebaikan.

Doa orang tua kepada anaknya adalah salah satu doa yang tidak tertolak di sisi Allah SWT.

Penutup: Merajut Masa Depan dengan Keteladanan
Mendidik anak pada hakikatnya adalah seni membersihkan taman jiwa agar kelak tumbuh bunga-bunga kebajikan yang harum semerbak.

Mari kita ingat selalu bahwa anak-anak kita merekam apa yang kita lakukan jauh lebih tajam daripada apa yang kita ucapkan.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesabaran, kelembutan, dan kebijaksanaan kepada kita semua dalam menuntun buah hati menuju ridha-Nya.


Tentang Penulis:
Ronaldo Rozalino - Coach RR
Teacherpreneur • Writer • Motivator Literation & Education • Content Creator • Business Owner Leader • Composer & Arranger • Coach

Media Sosial Digital:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Site: s.id/RonaldoRozalino

READ MORE - Melukis Cinta di Jiwa Anak: Seni Mendidik Tanpa Amarah Menuju Harmoni Keluarga
Coach RR

Cahaya Al-Qur'an di Usia Dini: Momen Istimewa Tasmi' 5 Juz Sekali Duduk Ananda Aisya Nabila Zakhi

Bismillah. Menghafal Al-Qur'an adalah sebuah kemuliaan besar yang Allah Ta'ala berikan kepada hamba pilihan-Nya.

Diusia yang masih sangat belia, anak-anak kita tidak hanya diajak untuk mengenal huruf hijaiyah, tetapi juga dipandu untuk merajut ayat demi ayat suci ke dalam dada mereka.

Hari ini, sebuah pencapaian luar biasa dan membanggakan kembali lahir dari rahim Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan.

Tepat pada Selasa, 3 November 2026, seorang santri berprestasi dari program Takhassus kelas 4, Aisya Nabila Zakhi binti Karnadi (asal Koto Kari), melaksanakan agenda Tasmi' sekali duduk untuk Juz 1, 2, 3, 4, dan total 5 juz.

Acara mulia ini diselenggarakan di Masjid Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.

Keutamaan Menghafal Al-Qur'an: Jalan Menuju Kemuliaan
Menjaga hafalan Al-Qur'an dalam ingatan bukanlah perkara mudah, melainkan buah dari ketekunan, kedisiplinan, serta rahmat Allah SWT.

Al-Qur'an menjanjikan kedudukan yang amat mulia bagi para penghafalnya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Sad: 29)

Selain itu, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa sebaik-baik manusia di sisi-Nya adalah mereka yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya.

Dalam sebuah hadis shahih riwayat Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)


Apa yang ditunjukkan oleh Ananda Aisya Nabila Zakhi hari ini adalah cerminan nyata dari usaha mulia tersebut.

Tasmi' sekali duduk dengan menyetorkan 5 juz secara maraton melatih ketahanan mental, kekuatan hafalan, serta ketulusan niat semata-mata karena Allah Ta'ala.

Dukungan dan Doa Bersama Majelis Guru
Keberhasilan seorang santri dalam meniti jalan menghafal Al-Qur'an tidak lepas dari peran serta lingkungan yang suportif kedua orang tua, para ustaz, ustazah, serta majelis guru yang tak kenal lelah membimbing.

Kehadiran serta doa dari bapak/ibu guru di masjid hari ini menjadi energi positif yang sangat berarti bagi Ananda Aisya dalam merampungkan tasmi' 5 juz ini.

Semoga pencapaian Ananda Aisya Nabila Zakhi menjadi inspirasi bagi santri-santri lainnya di Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan untuk semakin mencintai, menghafal, dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.

Jazakumullahu khairan katsiran kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, doa, dan tenaga demi suksesnya acara ini.

Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi langkah kita semua dalam membumikan Al-Qur'an. (Coach RR)
Aamiin ya Rabbal 'alamin.

READ MORE - Cahaya Al-Qur'an di Usia Dini: Momen Istimewa Tasmi' 5 Juz Sekali Duduk Ananda Aisya Nabila Zakhi
Coach RR

Dari Pesantren untuk Prestasi: Semangat Membara Tim Futsal MA Ahmad Dahlan di Ajang PAF Series Riau 2026

Bismillah. Dunia pesantren tidak hanya melahirkan generasi yang cerdas dalam ilmu agama dan berakhlak mulia, tetapi juga mencetak anak-anak muda yang tangguh, sportif, dan berprestasi di berbagai bidang. Hal inilah yang dibuktikan oleh Tim Futsal MA Ahmad Dahlan.

Dengan semangat tinggi dan tekat yang membara, mereka siap mengharumkan nama Kabupaten Kuantan Singingi dalam ajang bergengsi PAF Series 2026 tingkat SMA/MA se-Riau yang diselenggarakan pada 4–11 November 2026!

Kekompakan dan Sportivitas Berlandaskan Nilai Islam
Kompetisi olahraga bukan sekadar mencari siapa yang menang atau kalah, melainkan sebuah wadah untuk menempa karakter, kerja sama tim, dan menjunjung tinggi nilai sportivitas.

Semangat perjuangan ini sejalan dengan ajaran Islam yang menganjurkan umatnya untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam kebaikan dan memperkuat ukhuwah (persaudaraan).

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Ma'idah ayat 2:
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya."

Ayat ini menjadi landasan kuat bagi Tim Futsal MA Ahmad Dahlan bahwa di atas lapangan hijau, kerja sama, saling mendukung antar rekan satu tim, serta menjunjung nilai-nilai takwa adalah kunci utama untuk meraih kemenangan yang berkah.

Selain itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya memiliki fisik yang kuat dan sehat melalui sabdanya:

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan." (HR. Muslim)

Melalui ajang futsal ini, para santri membuktikan bahwa kekuatan fisik, ketangkasan, dan mental bertanding yang diasah secara positif merupakan bentuk ikhtiar untuk menjadi pribadi mukmin yang tangguh dan siap membawa manfaat bagi sesama.


Mohon Doa dan Dukungan Masyarakat Kuantan Singingi
Membawa nama besar daerah serta almamater pesantren tentu menjadi sebuah kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar. Segala persiapan, latihan keras, dan strategi telah dimatangkan oleh tim di bawah panji ADBS Team.

Kini, langkah mereka di arena PAF Riau 2026 tidak hanya bertumpu pada kemampuan fisik dan taktik semata, tetapi juga sangat memerlukan energi positif berupa doa dan restu dari seluruh guru, orang tua, serta masyarakat luas, khususnya warga Kabupaten Kuantan Singingi.

Mari kita berikan dukungan penuh dan doa terbaik agar setiap langkah anak-anak kita diberikan kemudahan, kelancaran, serta membuahkan hasil yang membanggakan.

Bismillah, dari pesantren untuk prestasi!
Ayo Ahmad Dahlan, menyala di lapangan! 🔥

READ MORE - Dari Pesantren untuk Prestasi: Semangat Membara Tim Futsal MA Ahmad Dahlan di Ajang PAF Series Riau 2026

My Facebook

Best Friend

Bisnis Online Succes (BOS)

Blog Profesional

BP Grup

BP Grup
British Propolis

Kontak Whats Up (WA)

Kontak Whats Up (WA)
085363554777