Meniti Jalan Pulang: Amalan Ringan Penjemput Surga dan Timbangan yang Memberat_Ustadz Jabrius Jas, S.Pd.I
Khutbah Jum’at, 6 November 2026 M / 25 Jumadil Awal 1448 H
Penceramah: Ustadz Jabrius Jas, S.Pd.I
Tempat: Masjid Syuhada Beringin Taluk, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya amalan kalian akan disempurnakan pada hari Kiamat..." (QS. Ali 'Imran: 185)
Detik waktu berputar tanpa suara, membawa napas kita semakin dekat pada garis akhir perjalanan dunia. Hari berganti bulan, tahun pun bergulir meninggalkan jejak-jejak usia.
Di bawah kubah Masjid Syuhada Beringin Taluk, Kuantan Singingi, alunan khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Jabrius Jas, S.Pd.I pada 6 November 2026 mengetuk pintu-pintu hati yang seringkali lalai dalam buaian dunia.
Kehidupan dan kematian bukanlah sebuah kebetulan hampa. Allah SWT menciptakan keduanya sebagai madrasah agung untuk menguji siapa di antara hamba-Nya yang terbaik amal perbuatannya.
Kualitas, Bukan Sekadar Kuantitas
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
"Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya."
(QS. Al-Mulk: 2)
Perhatikanlah, Allah tidak berfirman "siapa yang paling banyak amalnya", melainkan "siapa yang paling baik amalnya" (ahsanu 'amala).
Allah memilih kualitas ibadah di atas kuantitas semata. Ibadah yang sedikit namun ikhlas dan istiqamah jauh lebih dicintai daripada tumpukan amal yang rapuh tanpa penghayatan.
Kematian adalah sebuah keniscayaan yang kian akrab menyapa.
Dalam era digital hari ini,, layar gawai kita hampir setiap hari dipenuhi berita duka; kabar orang-orang yang mendahului kita menghadap sang pencipta.
Nabi kita tercinta, Rasulullah SAW, wafat pada usia 63 tahun. Usia Baginda Nabi menjadi sebuah garis ukur bagi umatnya.
Jika umur kita melampaui angka tersebut, maka itu adalah bonus usia dari Allah SWT. Namun, jika kurang, berarti waktu yang tersisa kian menipis.
Pertanyaannya, sudah sejauh mana persiapan kita menanti panggilan itu?
Amalan Ringan di Lisan, Berat di Nizam (Timbangan)
Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita dianugerahi berbagai keistimewaan. Di dalam hadis Nabi SAW, disebutkan bahwa umat Islam kelak akan memasuki surga lebih dahulu dibandingkan umat-umat sebelum mereka.
Kemuliaan ini tentu harus dijemput dengan amal-amal saleh yang dicintai Allah.
Di antara amalan agung tersebut terdapat amalan yang sangat ringan diucapkan oleh lisan, namun memiliki timbangan (nizam) yang sangat berat di sisi Allah SWT:
Memperbanyak Zikrullah (Kalimat Tayyibah) Lisan yang basah dengan zikir, terkhusus untaian kalimat agung (Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil ‘azhim), adalah bekal ringan yang mampu memberatkan timbangan kebaikan di hari kiamat kelak.
Menjawab Seruan Azan
Di tengah kesibukan dunia modern saat ini, tidak sedikit umat yang mulai lalai dan acuh tak acuh ketika muadzin mengumandangkan panggilan Ilahi.
Padahal, menjawab azan dengan mengikuti ucapan muadzin adalah amalan mulia yang mengundang rahmat dan syafaat.
Golongan yang Dirindukan oleh Surga
Tiada seorang mukmin pun di muka bumi ini yang tidak mendambakan surga. Surga yang penuh dengan kedamaian abadi ternyata merindukan sosok-sosok hamba tertentu di dunia. Ustadz Jabrius Jas, S.Pd.I mengingatkan kita pada dua golongan mulia yang dirindukan oleh surga:
Pertama: Orang-orang yang Senantiasa Membaca Al-Qur'an Al-Qur'an adalah surat cinta dari Sang Pencipta. Dalam rentang waktu 24 jam sehari semalam, pastikan diri kita tidak pernah absen untuk berinteraksi dengan ayat-ayat suci Al-Qur'an, menjadikannya penyejuk jiwa dan penerang di dalam kubur.
Kedua: Orang-orang yang Menjaga Lisan
Lisan adalah anugerah bermata dua. Ia bisa menjadi jembatan yang menyatukan hati dalam persaudaraan, namun ia juga bisa menjadi jurang perpecahan yang menenggelamkan pelakunya ke dalam kehinaan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari & Muslim).
Berhati-hatilah dengan lisan, sebab lidah tak bertulang bisa lebih tajam daripada mata pedang.
Merajut Asa Menuju Ridha-Nya
Mari jadikan momentum Jumat berokah ini sebagai titik balik untuk mengevaluasi diri.
Semoga segala ilmu dan nasihat yang disampaikan di Masjid Syuhada Beringin Taluk ini dapat kita implementasikan dalam lembaran kehidupan hari esok, menjadikan sisa usia kita penuh makna dan berbuah husnul khatimah.
Artikel disarikan dan ditulis oleh:
Ust. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
(Sekretaris Komisi Info dan Komunikasi MUI Kab. Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN)