Kuantan Tengah: Menenun Warisan Rasa di Bumi Kuantan Singingi: Ketika Kuliner Tradisional Menjadi Mahakarya Budaya
Malam di Kuantan Singingi membias cahaya kehangatan. Di antara riuh rendah gelak tawa dan pendar lampu festival, terhampar sebuah kisah tentang rasa yang tak pernah pudar oleh waktu.
Kecamatan Kuantan Tengah, tampil memukau mengusung tema agung:
"Melestarikan Cita Rasa dan Budaya Kuliner Khas Kuantan Singingi."
Di panggung megah berbalut nilai tradisi ini, busana karnaval bertaut jelita dengan warisan leluhur.
Hiasan takir dan tampah bambu membawa replika kelezatan bumi Kuansing mulai dari kenyalnya konji barayak, manisnya galamai, renyahnya kerupuk sagu, gurihnya paniaram, hingga kehangatan lomang yang dibakar dalam ruas-ruas bambu kebersamaan.
Setiap kuis dan sajian bukan sekadar pemuas dahaga dan lapar, melainkan rajutan cerita, doa, serta simbol gotong royong yang telah mengakar berabad-abad lamanya.
Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si, menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya merawat identitas ini:
"Kuliner khas Kuantan Singingi adalah bagian tak terpisahkan dari kekayaan jiwa dan tradisi masyarakat kita. Makanan tradisional menyimpan nilai sejarah, kehangatan, serta kebersamaan dalam setiap suapnya. Melalui tema ini, kita mengajak generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan menjaga kearifan lokal agar warisan ini tetap abadi, merajai zaman tanpa pernah kehilangan jatidirinya."
Langkah para peraga di atas karpet merah malam itu seolah menegaskan bahwa tradisi tak pernah mati; ia hanya butuh ruang untuk terus bernapas dan bersinar.
Keunikan kuliner yang dirawat turun-temurun ini mencerminkan kreativitas dan keanggunan budaya lokal yang patut dibanggakan.
Semoga pendar semangat dari Kuantan Tengah ini terus menyala, menuntun generasi muda untuk senantiasa membanggakan warisan leluhur, memelihara cita rasa nusantara, dan menjaga agar identitas Kuansing tetap bergema hingga ke penjuru negeri.
Reportase : Ronaldo Rozalino - Coach RR
Posting Komentar
Komentar ya