Meruntuhkan Rumus Rajin Malas Sama Saja (RMS) : Catatan untuk Pendidikan Kita
Menakar Ulang Makna "Sama Saja": Sebuah Renungan di Gerbang 2027
Oleh: Ronaldo Rozalino
(Teacherpreneur • Motivator Literasi & Pendidikan • Coach RR)
Bismillah. Wacana baru tengah bergulir di dunia pendidikan kita, seperti ombak pelan yang perlahan-lahan membentuk garis pantai.
Rencana diterapkannya kembali kebijakan "tidak naik kelas" mulai tahun 2027 bukan sekadar perubahan administrasi, melainkan sebuah seruan untuk merenungkan hakikat perjuangan di bangku sekolah.
Hal ini berawal dari keprihatinan Mendikdasmen, Abdul Mu'ti, akan menjamurnya mentalitas "Rajin-Malas Sama Saja" di kalangan sebagian siswa. Di balik ungkapan sederhana itu, tersimpan sebuah ironi mendalam yang patut kita bedah dengan kacamata hati dan akal.
Ilusi Kesetaraan dalam Ketidaksamaan
Rumus "Rajin Malas Sama Saja" adalah sebuah ilusi yang menyesatkan, seperti bayangan di dinding gua yang kita sangka realitas.
Ia mengabaikan prinsip fundamental kehidupan: bahwa setiap benih yang ditanam akan berbuah sesuai jenisnya, dan setiap tetes keringat yang tercurah akan membuahkan hasil.
Dalam pandangan sekuler, ini adalah prinsip sebab-akibat. Namun, dalam kacamata yang lebih jernih, ini adalah cerminan dari ketetapan Ilahi.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:
“Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8).
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada amalan sekecil apa pun yang luput dari perhitungan-Nya.
Jika dalam hal sekecil zarrah saja ada balasannya, bagaimana mungkin usaha besar seperti belajar dengan sungguh-sungguh bisa disamakan dengan bermalas-malasan?
Dalam konteks pendidikan, membiarkan mentalitas "sama saja" ini tumbuh adalah sebuah bentuk ketidakadilan, baik bagi siswa yang rajin maupun bagi siswa yang malas.
Siswa yang rajin akan merasa usahanya sia-sia, sementara siswa yang malas akan merasa terlena dalam kenyamanan yang semu.
Menengok Warisan Sunnah
Sejalan dengan Al-Qur'an, Hadist Nabi Muhammad SAW juga memberikan panduan tentang pentingnya usaha dan kesungguhan.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, walau pada masing-masing ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah.”
Kata-kata "Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu" adalah sebuah seruan untuk menjadi "orang mukmin yang kuat" dalam artian memiliki kemauan keras, daya juang yang tinggi, dan pantang menyerah. "Kekuatan" ini tidak hanya bermakna fisik, tetapi juga mental dan spiritual.
Kekuatan untuk melawan rasa malas, kekuatan untuk bangkit setelah gagal, dan kekuatan untuk terus belajar dan berproses.
Sementara itu, Rasulullah SAW juga memperingatkan tentang dampak dari kemalasan dalam sebuah doa yang sering dipanjatkan:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, dari rasa lemah dan malas..." (HR. Bukhari).
Kemalasan adalah seperti karat yang perlahan menggerogoti potensi diri, menghambat kemajuan, dan pada akhirnya membawa pada kegagalan.
Sebuah Tantangan di Balik Peluang
Rencana kebijakan ini membawa tantangan sekaligus peluang. Bagi para siswa, ini adalah sebuah panggilan untuk bangkit dari tidur panjang kemalasan, untuk menyadari bahwa masa depan ada di tangan mereka sendiri.
Ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka bukanlah generasi yang rapuh, melainkan generasi yang siap berjuang dan beradaptasi.
Bagi para guru dan pendidik, ini adalah momentum untuk menyempurnakan pendekatan pembelajaran, untuk lebih mengenali keunikan dan potensi setiap siswa, dan untuk membimbing mereka dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
Tugas guru bukan hanya mentransfer ilmu, melainkan juga menanamkan karakter yang kuat, semangat pantang menyerah, dan rasa tanggung jawab atas diri mereka sendiri.
Harapan di Ujung Pena
Sebagai seorang pendidik, motivator, dan juga orang tua, saya melihat kebijakan ini sebagai sebuah upaya untuk "meluruskan yang bengkok, merapikan yang kusut."
Kita tidak ingin mencetak generasi yang hanya mengejar nilai, tetapi generasi yang memiliki kecintaan pada ilmu, semangat untuk terus belajar, dan akhlak yang mulia.
Kita ingin melihat anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri, keluarga, agama, dan bangsanya.
Perjalanan menuju 2027 masih panjang. Marilah kita jadikan sisa waktu ini untuk berbenah, untuk menyuburkan semangat belajar, dan untuk menyadari bahwa dalam setiap usaha yang sungguh-sungguh, Allah SWT akan selalu menyertainya.
Karena pada akhirnya, rajin dan malas bukanlah sekadar pilihan, melainkan sebuah cerminan dari hati dan jiwa kita. Dan di hadapan Sang Pencipta, sekecil apa pun usaha kita, akan selalu dihargai dan dibalas dengan yang lebih baik.
Profil Penulis:
Ronaldo Rozalino (Coach RR) adalah seorang Teacherpreneur, Content Creator, Motivator Literasi & Pendidikan, Business Leader, Penulis, Composer & Arranger, serta Coach yang berdedikasi tinggi. Ia memiliki keyakinan mendalam akan kekuatan pendidikan untuk mengubah dunia, dan selalu berusaha untuk memberikan kontribusi positif melalui karyanya.
Kontak:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Site : s.id/RonaldoRozalino
Posting Komentar
Komentar ya